Bauran Pemasaran : Lokasi dan Saluran Distribusi || Manajemen Pemasaran
BAURAN PEMASARAN : LOKASI
DAN SALURAN DISTRIBUSI
Konsep Lokasi dalam Bauran
Pemasaran
Lokasi merupakan tempat melayani
konsumen, dapat pula diartikan sebagai tempat untuk memajangkan barang-barang
dagangannya.1 Definisi lokasi adalah tempat perusahaan beroperasi atau tempat
perusahaan melakukan kegiatan untuk menghasilkan barang dan jasa yang
mementingkan segi ekonominya.
Penentuan lokasi adalah strategi
utama dalam usaha ritel. Lokasi yang strategis akan menjadi jalan pembuka yang
menentukan kesuksesan sebuah usaha ritel. Banyak pengusaha ritel yang terkadang
kurang memahami pentingnya lokasi ketika membuka usaha ritel sehingga tidak
melakukan survei lokasi dan menyusun strategi yang tepat dalam pemilihan lokasi
tersebut. Kriteria yang dapat digunakan untuk menilai suatu lokasi yang
strategis adalah letak lokasi yang
berada atau di sekitar (dekat dengan) pusat aktivitas perdagangan dan
perkantoran, kedekatan lokasi dengan target pasar, terlihat jelas dari sisi jalan, akses ke lokasi baik.
Konsep dan Kegunaan Saluran
Distribusi
Distribusi adalah salah satu aspek
dari pemasaran. Distribusi juga dapat diartikan sebagai kegiatan pemasaran yang
berusaha memperlancar dan mempermudah penyampaian barang dan jasa dari produsen
kepada konsumen, sehingga penggunannya sesuai dengan yang diperlukan (jenis,
jumlah, harga, tempat, dan saat dibutuhkan).
Menurut Winardi (1989), distribusi
merupakan sekumpulan perantara yang terhubung erat antara satu dengan yang
lainnya dalam kegiatan penyaluran produk-produk kepada konsumen (pembeli).
Sedangkan menurut Philip Kotler (1997), distribusi merupakan sekumpulan
organisasi yang membuat sebuah proses kegiatan penyaluran suatu barang atau
jasa untuk dipakai atau dikonsumsi oleh para konsumen (pembeli). Oleh karena
itu untuk menyampaikan barang-barang dari produsen ke konsumen kegiatan
distribusi sangant penting. Tanpa adanya distribusi, barang-barang yang
dihasilkan tidak akan sampai ke onsumen.
Fungsi saluran distribusi :
1. Sabagai alat memperlancar keuangan perusahaan
Uang tunai cepat masuk bila
menggunakan saluran distribusi dibanding dengan perusahaan menjual sendiri
produknya.
· Agen/whole seller bisa langsung mengambil barang dalam
jumlah yang besar.
· Kalau perusahaan yang menjual, harus menunggu konsumen
datang dan jumlah yang dibeli relatif sedikit.
2. Sebagai alat komunikasi
Perusahaan banyak memperoleh
masukan/informasi dari agen mengenai reaksi/respon produk yang dikeluhkan
konsumen.
3. Sebagai alat bantu penjualan/promosi
Tipe-Tipe Distribusi
1.
Produsen - Konsumen
Merupakan bentuk saluran distribusi yang paling sederhana tanpa
menggunakan perantara, produsen dapat menjual barangnya secara langsung kepada
konsumen.
2.
Produsen - Pengecer - Konsumen
Saluran ini juga disebut saluran distribusi langsung. Disini pengecer
besar langsung melakukan pembelian kepada produsen.
3.
Produsen - Pedagang Besar - Pengecer - Konsumen
Saluran distribusi yang banyak
dipakai oleh perusahaan dan dapat disebut saluran tradisional. Disini produsen
hanya melayani penjualan dalam jumlah besar saja dan tidak menjual epada
pengecer, lalu pengecer akan dilayani oleh pedagang besar dan konsumen dilayani
oleh pengecer.
4.
Produsen - Agen - Pedagang Besar - Pengecer - Konsumen
Dalam saluran ini produsen menggunakan agen sebagai perantara untuk
menyalurkan barang kepada pedagang besar kemudian menjualnya kepada toko kecil.
5.
Produsen - Agen - Pengecer - Konsumen
Disini produsen memilih agen sebagai penyalurnya. Ia menjalankan kegiatan
perdagangan besar dalam saluran distribusi yang ada. Saluran dari agen adalah
pengecer besar.
Evaluasi dan Upaya
Pengendalian Saluran Distribusi
1.
Vertikal Marketing Sytem (VMS), adalah jaringan
yang dikelola secara terpusat dan profesional yang sejenak awal didesain untuk
mencapai penghematan dalam operasi dan hasil pemasaran yang maksimal. VMS
merupakan jaringan yang rasional, kapital intensif dan didesain untuk mencapai
penghematan teknologi, manajerial dan promosi melalui intergrasi, koordinasi
dan sinkronisasi aliran pemasaran dari produsen ke konsumen akhir.
a.
Corporate VMS, yaitu jaringan yang terbentuk
jika para anggota saluran di tingkat distribusi yang berbeda dimiliki dan
dioperasikan oleh satu perusahaan. Keuntungan dari bentuk ini adalah: kegiatan
operasi bersifat relatif stabil, material dan pasokan terjamin, pengendalian
distribusi dapat dilakukan dengan lebih baik, mutu dapat lebih terkendali,
fasilitas riset lebih besar, kekuatan membeli lebih besar, pengeluaran
eksekutif lebih rendah, konsumen juga diuntungkan dengan produk yang lebih baik
dan lebih murah.
Corporate VMS dapat berbentuk
integrasi kedepan maupun ke belakang (backward and forward integration). Kedua
bentuk ini dapat dilakukan secara penuh maupun parsial. Integrasi ke depan
terbentuk bila pedagang grosir mendirikan sendiri outlet retailnya. Supplier
dan reseller memilih integrasi ke depan karena alasan sebagai berikut:
perusahaan–perusahaan dalam saluran distribusi dapat mencapai efesiensi dan
efektifitas yang lebih tinggi bila mempunyai organisasi yang ikut dalam aliran
fisik dan kepemilikan barang, kegiatan distribusi lembaga– lembaga di dalam
saluran pemasaran. Contoh : IBM, mesin jahit Singer dan ban mobil
Goodyear. Sedangkan integrasi ke belakang dilakukan apabila retailer atau
wholesaler memliki pemasok barang dan jasa sendiri. Keuntungan integrasi ke
belakang ini adalah : terjaminnya
barang dagangan atau bahan mentah yang kualitasnya konsisten secara
berkesinambungan, aliran fisik, informasi dan transaksi dapat dilakukan secara
efektif dan efesien, dapat menjadi faktor pendukung keunggulan bersaing. Contoh : Jeans Sears dan peralatan listrik W.W.
Granger Corporate VMS
b.
Administrated VMS adalah suatu jaringan yang
kegiatan– kegiatan pemasarannya terkoordinasi dalam suatu program yang disusun
oleh satu atau beberapa perusahaan dimana perusahaan yang bersangkutan tidak
berstatus sebagai pemilik keseluruhan jaringan. Contoh : Kodak, Gillete, General electric dan P&G.
c.
Contractual VMS adalah jaringan yang terdiri
dari anggota – anggota saluran independent yang mengintegrasikan program –
program pemasarannya dalam perjanjian (kontrak)untuk mencapai penghematan dan
hasil pemasaran yang lebih baik.
2.
Horisontal Marketing System merupakan jaringan
yang terbentuk bila beberapa perusahaan perantara yang tidak berkaitan
menggabungkan sumberdaya dan program pemasarannya untuk memanfatkan peluang
pasar yang ada, yang dalam hal ini mereka berada di bawah satu manajemen. Hal
ini dikarenakan masing– masing perusahaan tidak memiliki sumber–sumber modal,
pengetahuan produksi dan pemasaran untuk menjalankan usaha sendiri dan mereka
tidak berani menanggung resiko.
Manajemen Konflik dalam
Saluran Distribusi
Konflik horizontal adalah yang
terjadi diantara perantara yang sejenis. Bentuk konflik horizontal: konflik
antara perantara yang menjual barang sejenis, misalnya toko komputer dengan
toko komputer dan konflik antar perantara yang menjual barang berbeda, misalnya
toko komputer dengan toko elektronik. Sumber konflik biasanya karena ada
perantara yang memperluas lini produknya dengan lini baru dan tidak
tradisional.
Konflik vertikal adalah yang
terjadi antara anggota saluran distribusi dan terdiri dari: konflik antara
produsen dan pedagang grosir, misalnya ketika produsen langsung menjual kepada
pengecer serta konflik antara produsen dengan pengecer, misalnya independent
retailer dengan producer owned retail store. Penyebab konflik ini biasanya
adalah ketidaksamaan tujuan, hak dan peranan yang tidak jelas, perbedaan
persepsi dan besarnya ketergantungan perantara kepada produsen.
Untuk mengelola dan menangani
konflik dalam saluran pemasaran dapat diterapkan beberapa cara sebagai berikut :
1.
Bargaining, yaitu salah satu anggota saluran
berinisiatif sendiri dalam proses tawar menawar, dimana ia bersedia mengalah,
dengan harapan pihak lain juga melakukan hal yang sama. Cara ini dapat
dilakukan jika kedua belah pihak bersedia memberi dan menerima dan manfaat yang
diperoleh dan tawar menawar yang dilakukan cukup menguntungkan masing–masing pihak.
2.
Boundary, yaitu menangani konflik dengan
diplomasi, dimana kedua belah pihak mengirim wakil–wakilnya untuk berunding
memecahkan konflik yang terjadi. Cara ini akan berhasil jika wakil yang dikirim
benar–benar memahami permasalahannya, mempunyai pengaruh besar dan kedua belah
pihak bersedia berunding.
3.
Interpenetration, yaitu pemecahan konflik dengan
interaksi informal yang sering dengan melibatkan pihak lain untuk membangun
apresiasi terhadap pandangan masing-masing. Dalam hal ini diperlukan kesediaan
kedua belah pihak untuk berinteraksi, misalnya dengan bergabung dalam suatu
asosiasi dagang.
4.
Superorganizational, yaitu menggunakan pihak
ketiga yang netral untuk menangani konflik. Ada 4 cara yang bisa dilakukan,
antara lain :
·
Conciliation, yaitu upaya informal pihak ketiga untuk mempertemukan pihak–pihak
yang terlibat konflik dalam rangka membuat perjanjian damai.
·
Mediation, yaitu pihak ketiga merekomendasikan penyelesaian bagi kedua belah
pihak.
·
Compulsory albitration, yaitu menggunakan lembaga hukum untuk menyelesaikan
konflik.
·
Voluntary albitration, yaitu menggunakan pihak ketiga yang disepakati bersama
(di luar lembaga hukum) untuk menyelesaikan konflik.
5.
Superordinate goal, yaitu para anggota saluran
yang terlibat konflik menetapkan tujuan bersama.
6.
Exchange of person, yaitu masing–masing pihak
yang berkonflik saling bertukar personil. Tujuannya adalah agar masing–masing
pihak memahami sudut pandang dan situasi yang dihadapi pihak lainnya.
7.
Cooptation, yaitu menggunakan pemimpin
organisasi lain yang ditempatkan di dewan penasehat atau dewan direktur untuk
didengar pendapatnya dalam penyelesaian konflik. Tujuan dari semua alternatif
tersebut adalah untuk menghasilkan solusi yang dapat diterima oleh semua pihak
yang berselisih sehingga mereka semua bersedia untuk secara bersama–sama
melaksanakan apa yang telah disepakati.
Sumber :
Shinta, Agustina. 2011. Manajemen Pemasaran. Malang : UB Press.
Comments
Post a Comment